Sejarah Hail terbentang hingga masa yang sangat lampau. Di sekitarnya ditemukan berbagai situs arkeologi dan ukiran batu yang menunjukkan adanya permukiman manusia sejak zaman yang sangat kuno. Bukti paling jelas dan terdokumentasi dengan baik adalah situs Gunung Umm Sinman di Jubbah. Situs ini ditetapkan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 2015.

Hail pada Masa Jahiliyah: Kabilah Thayy dan Hatim Ath-Tha'i

Setelah runtuhnya Bendungan Ma'rib, Kabilah Thayy menetap di antara Gunung Aja dan Gunung Salma. Salah satu putra kabilah ini yang paling terkenal adalah penyair Hatim bin Abdullah Ath-Tha'i (wafat sekitar tahun 578 M).

Persinggahan di Jalur Haji dan Perdagangan

Hail memanfaatkan letaknya yang strategis di antara Irak dan Hijaz, sehingga menjadi salah satu persinggahan terpenting di "Darb Zubaydah", jalur haji yang menghubungkan Kufah dengan Makkah Al-Mukarramah.

Kerajaan Al-Rasyid (Kerajaan Jabal Syammar) 1836–1921 M

Sekitar tahun 1836 M, Kerajaan Jabal Syammar didirikan di Hail di bawah kepemimpinan Abdullah bin Ali Al-Rasyid. Periode ini diwarnai persaingan panjang dan peperangan antara Keluarga Rasyid di Hail dan Keluarga Saud di Riyadh.

Penyatuan Hail dengan Negara Saudi

Pada tahun 1921, setelah serangkaian pertempuran, Hail akhirnya jatuh dan amir terakhirnya menyerah. Dengan demikian, berakhirlah Kerajaan Jabal Syammar, dan wilayah Hail pun bergabung dengan entitas politik yang kelak bersatu dengan nama Kerajaan Arab Saudi pada tahun 1932.

Hail Masa Kini

Dalam beberapa dekade berikutnya, Hail bertransformasi menjadi kota administratif dan jasa modern, serta menjadi ibu kota Wilayah Administratif Hail. Dalam beberapa tahun terakhir, Hail juga muncul sebagai destinasi wisata yang terus berkembang.