Sedikit pengunjung Teluk yang menyadari betapa besarnya ikatan sejarah antara Jazirah Arab dan Zanzibar. Pulau ini bukan sekadar pos perdagangan Arab yang sekilas — selama beberapa dekade, pulau ini secara efektif menjadi ibu kota negara Arab-Oman yang kedaulatannya membentang dari Muscat hingga pesisir Afrika Timur.
Awal mula: mengusir Portugis (1698) Portugis menguasai pesisir Swahili sejak awal abad ke-16, tetapi pada 1698, pasukan Oman yang dipimpin Imam Saif bin Sultan al-Ya'rubi berhasil mengusir mereka secara permanen dari Zanzibar dan daerah sekitarnya, menjadikan pulau ini bagian dari wilayah luar negeri Oman. Bangsa Oman mendirikan garnisun di Zanzibar, Pemba, dan Kilwa, dan perdagangan berkembang pesat yang sebagian dibangun atas perdagangan gading dan budak, bersama ekonomi perkebunan yang tumbuh berpusat pada cengkeh.
Titik balik: memindahkan ibu kota (1840) Pemerintahan Arab mencapai puncaknya di bawah Sayyid Said bin Sultan, yang membuat keputusan luar biasa pada 1840 untuk memindahkan seluruh ibu kota kesultanannya dari Muscat di Oman ke Stone Town di Zanzibar. Ini bukan sekadar langkah politik, melainkan pengakuan bahwa kekayaan yang meningkat dari perdagangan gading dan cengkeh telah menjadikan Zanzibar pusat ekonomi sejati kesultanan; Stone Town dengan cepat menjadi salah satu kota terkaya dan terbesar di Afrika Timur.
Perpecahan (1861) Setelah kematian Sayyid Said, kesultanan secara resmi terpecah pada 6 April 1861 menjadi dua negara terpisah: Kesultanan Oman berbasis di Muscat, dan Kesultanan Zanzibar yang merdeka, diperintah oleh cabang dinasti yang sama (Al Bu Said). Kesultanan Zanzibar terus berdiri sendiri hingga 1964, ketika sebuah revolusi mengakhiri pemerintahan kesultanan dan menggabungkan pulau itu dengan Tanganyika untuk membentuk Republik Bersatu Tanzania saat ini.
Warisan arsitektur dan budaya yang masih hidup Saksi paling menonjol dari era itu adalah House of Wonders (Beit al-Ajaib), istana yang dibangun Sultan Barghash bin Said pada 1883, bangunan pertama di Zanzibar yang memiliki listrik dan bangunan pertama di seluruh Afrika Timur yang memiliki lift. Di sampingnya, Istana Sultan lama (Beit al-Sahel) dan Benteng Oman lama Zanzibar (dibangun di atas reruntuhan kapel Portugis akhir abad ke-17) menjadi bukti arsitektur tambahan. Bahkan hingga kini, beberapa keluarga Zanzibar memiliki keturunan Oman langsung, dan masakan lokal membawa jejak jelas rempah dan hidangan berakar Teluk.
💬 Komentar
Belum ada komentar — jadilah yang pertama berbagi pengalaman!